Buruh Dan Kontemplasi Sejarah Eropa

DSC08319

Oleh: Yogi Zul Fadhli

”Buruh bersatu, tak bisa dikalahkan…Buruh bersatu, tak bisa dikalahkan!”

KALIMAT ITU lantang diteriakan oleh seorang orator dari atas mobil bak terbuka di tengah kerumunan massa. Massa aksi yang tampak sudah bermandi keringat karena kepanasan mengikuti teriakan sang orator. Siang yang terik itu, Selasa 1 Mei 2012, sejumlah elemen masyarakat menggelar aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di sepanjang Jalan Malioboro dan berakhir di perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Mereka menyerukan macam-macam tuntutan: stop liberalisasi kebijakan di sektor buruh, naikkan upah buruh, tolak diskriminasi upah buruh perempuan, hapus sistem kerja kontrak dan outsourcing.

Tuntutan yang diajukan para buruh itu menjadi masalah riil selama ini. Buruh masih menjadi warga kelas dua yang kesejahteraannya dari tahun-ke-tahun tak terjamin akibat outsourcing dan sistem kontrak, yang kerja ekstra tapi upahnya rendah, yang terus terintimidasi sekalipun telah berulang kali pula ––baik buruh maupun elemen masyarakat seperti mahasiswa atau LSM yang bergerak di sektor perburuhan mengikhtiarkan kepentingan buruh, bahkan rutin memperingatinya satu tahun sekali sebagai hari buruh, tapi upaya tersebut seakan cuma jadi aksi simbolis belaka. Negara yang jadi sasaran ”kemarahan” kelihatan tak bergeming. Aksi simbolis itu seperti diabaikan oleh penguasa.

Tapi apakah perjuangan akan berhenti hanya karena kesejahteraan buruh tak kunjung didapat?

Penting untuk diingat bahwa penindasan terhadap buruh tidak hanya baru-baru ini saja. Sudah sejak dua abad yang lalu buruh terus berada dalam situasi tertekan. Lamanya penindasan yang dilakukan kelas pengusaha dan negara sendiri yang berideologi kapitalisme, memunculkan hipotesa bahwa perjuangan menentang ketidakadilan terhadap kelas pekerja semestinya semakin kuat dan matang untuk memperoleh sebuah tujuan, yakni taraf hidup yang mapan. Oleh sebab itu tampaknya sangat penting untuk membuka kembali buku sejarah, sebagai bahan ajaran bersama, bahwa kapitalisme adalah akar masalah yang merugikan golongan pekerja.
***

Segalanya dimulai dari abad 15-16 saat fase kegelapan masih menggelayut di langit Eropa. Eropa pada masa itu, Eropa Barat, Eropa Tengah maupun Eropa Timur adalah Eropa yang irasional dengan keabsolutan raja-rajanya. Kekuasaan diktatorial raja yang berkongkalikong dengan gereja, telah mengkontruksi pikiran orang-orang Eropa sehingga muncul ungkapan suara raja, suara Tuhan. Bahkan Raja Louis XIV (1643-1715) dengan sombong mendeklarasikan, L’etat c’est moi: Negara Adalah Saya. Masyarakat Eropa hidup dalam sebuah kepercayaan yang ternyata sesat. Banyak hal telah diterima sebagai sesuatu yang benar, tapi ternyata tidak ada dasarnya. Ketidakrasionalan yang dipandang lazim ini akibat doktrin raja dan gereja yang begitu dominan mencekoki alam rasionalitas manusia-manusia Eropa dengan hal-hal berbau religius menyesatkan, bahwa bila mereka membangkang pada raja berarti telah membangkang pada Tuhan.

Situasi sosial itu menimbulkan kejengahan bagi sementara masyarakat Eropa. Maka, pada abad 18 lahirlah sejumlah sarjana berpikiran cerdas, seperti John Locke dan JJ. Rosseu yang menentang kesewenang-wenangan raja. Struktur sosial yang tak logis itu dihancurkan oleh akal budi. Bahwa manusia mempunyai hak-hak alami yang semestinya dihormati. Dari situ liberalisasi lahir di mana ekonomi individualistik diagungkan. Kaum borjuis yang lama terkungkung dalam kekuasaan despotis raja tampil mengekspresikan gagasan para sarjana berpikiran cerah itu untuk menumbangkan dominasi raja. Revolusi besar-besaran pun diterjadi. Perubahan sosial masyarakat Eropa, dari masyarakat agraris feodal yang tak masuk akal itu ––yang mencengkeram keberadaan kaum borjuis–– ke masyarakat rasional telah melahirkan era baru kehidupan, Eropa yang tercerahkan. Eropa yang bebas.

Liberalisasi juga menciptakan sistem ekonomi kapitalistik modern yang dikerjakan oleh kelompok borjuis. Sebelum penjabaran lebih lanjut tentang ekonomi kapital modern, perlu digarisbawahi, jika ada kapitalisme modern, tentu ada model kapitalisme kuno. Dan pertumbuhan kapitalisme kuno di Eropa ini sesungguhnya bersangkut-paut dengan lahirnya kota-kota kapitalis yang menurut catatan W.H.A. Wesselink dan K.YFF, seperti dikutip Zulfikri Suleman dalam Demokrasi Untuk Indonesia, Pemikiran Politik Bung Hatta, berada di Lombardia, Italia sekitar tahun 1050, di kota-kota Jerman bagian selatan, Firenze dan juga di Vlaanderen, Belanda tahun 1200. Di dalam kota tersebut dapat dijumpai banyak saudagar, tukang besi, tukang tenun, tukang kayu dan golongan budak. Skema kerja kapitalisnya pun mirip dengan pola kapitalisme modern, ada pembuat sekaligus penjual aneka ragam barang. Aktivitas mereka lakukan di rumah-rumah dan sistem upah sudah diberlakukan. Jumlah golongan budak yang melimpah menjadi komoditas utama pengusaha kapitalis generasi pertama ini untuk mengembangkan usahanya. Para budak dijadikan pekerja dengan upah yang relatif murah.

Kolonialisme/imperialisme pun dikembangkan oleh bangsa Eropa terhadap bangsa-bangsa Timur di Asia dan Afrika. Pada tahun 1600-an armada Portugis dan Spanyol melakukan pelayaran ke Timur untuk mengambil barang yang punya nilai jual. Ekspansi negara-negara tersebut memunculkan konsekuensi bahwa perlu ada lembaga baru untuk mengelola pemasukan dan pengeluaran barang-modal, seperti Bank of Sweden berdiri tahun1657, Bank of England tahun 1695, korporasi dagang Belanda Vereenigde Oost-Indische Compaigne (VOC) yang berdiri tahun 1602. Akivitas perniagaan yang meningkat pesat ketika itu menjadikan Eropa sebagai pusat perdagangan dunia. Maka motivasi berinvestasi dengan semangat mencari laba menjadi hal baru. Kapitalisme pun menjadi entitas baru menggantikan sistem feodalistik-absolutisme yang sudah lama tumbuh di Eropa.

Jeffery Bruun mengatakan perkembangan kapitalisme di Eropa berlangsung melalui tiga tahap. Pertama, pertumbuhan kapitalisme komersil, tumbuh sejak berakhirnya Abad Pertengahan sampai akhir abad 18. Kedua, kapitalisme industri, berlangsung hanya kurang setengah abad. Walaupun singkat, tapi momentum ini berbarengan dengan puncak Revolusi Industri. Revolusi Industri adalah perubahan fundamental antara tahun 1750-1850 dalam proses memproduksi pakaian, besi, baja dan barang-barang pabrik lainnya. Pengusaha Eropa Barat mulai menerapkan investasi mesin produksi dan sarana-prasarana transportasi dan komunikasi. Untuk meningkatkan keuntungan berlipat, maka alat-alat produksi pun diubah. Tenaga manusia diganti menjadi tenaga mesin. Manusia, dalam hal ini kelompok pekerja, menurut Karl Renne, penganut paham Marxis (dalam bahasa bebas) mengungkapkan telah terjadi penguasaan manusia atas manusia. Manusia turun kedudukannya menjadi faktor produksi, yakni buruh. Dengan demikian ia disamakan dengan alat (mesin), modal dan tanah yang oleh sebab itu bisa diperlakukan eksploitatif demi tercapainya kepentingan kelompok borjuis. Zulfikri Suleman mengatakan, kapitalisme industri diasumsikan, makin tinggi tingkat produksi, makin murah biaya produksi per satuan barang. Dengan logika demikian, agar tingkat keuntungan semakin tinggi, yang harus dilakukan adalah meningkatkan besaran produksi dengan cara menjamin keberlanjutan pasokan bahan mentah dan pasar yang makin luas dan konsumtif. Untuk mendapatkan bahan produksi tersebut, tidak mengherankan kalau pendudukan pun dilakukan secara masif oleh bangsa Eropa. Maka seperti tercatat sejarah dan sudah dipaparkan di atas, kita mendengar Prancis menjajah negara-negara Afrika, Inggris menjajah beberapa negara di Asia, termasuk Belanda yang menguras rempah-rempah Indonesia. Tahap terakhir perkembangan versi Jeffery Bruun adalah kapitalisme finansial, di mana para bankir dan para agen keuangan, melalui pinjaman uang dan kepemilikan saham, mengambil alih aktivitas ekonomi Eropa.
***

Seorang revolusioner Marxis perempuan keturunan Yahudi, Rosa Luxemburg pernah menekankan, gerakan buruh harus siap menghadapi revolusi karena kapitalisme pasti menuju keruntuhan. Dan benar saja, pada 1930-an krisis ekonomi melanda dunia mengakibatkan kapitalisme goyah. Sejumlah negara mulai meninggalkan kapitalisme swasta dan beralih ke sistem developmentalisme (pembangunanisme). Kendati sistem ini meletakkan negara sebagai tumpuan aktivitas ekonomi, namun sejatinya developmentalisme masih mempunyai roh kapitalisme. Bedanya kali ini pasar dikendalikan oleh negara bukan lagi oleh swasta. Toh demikian, tetap saja ada kongsi antara negara dengan swasta. Ini sebenarnya Luxemburg tak memberi kepastian kapan kerobohan kapitalisme itu tiba. Andai Luxemburg tak mati dibunuh milisi Jerman dan masih hidup di era perdagangan bebas ini, tentu ia harus menerima kenyataan bahwa sistem kapitalisme belum mati sebagaimana ia ramalkan. Kapitalisme sekarang justru sedang berada di titik kulminasi tertinggi sebagai sistem yang diejawantahkan di banyak negara yang tak tahu kapan ia jatuh.

Kian besarnya sistem kapitalisme tak bisa dilepaskan dari sosok Adam Smith, bapak ekonomi liberal. Ia menulis buku An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776) yang menjabarkan sumber kekayaan negara bukan berasal dari pertanian, melainkan dari perdagangan dan industri. Teori Adam Smith meletakan buruh sebagai obyek peningkatan produksi ini mempengaruhi pola pikir kelompok borjuis. Smith mengutarakan:

”….ketika seseorang berusaha keras untuk menggunakan modalnya baik untuk mendukung industri domestik maupun untuk mengendalikan industri tersebut sehingga menghasilkan nilai maksimal, orang tersebut butuh buruh untuk meningkatkan penghasilan tahunan masyarakat semaksimal mungkin. Ia berbuat begitu bukan dimaksudkan untuk peduli pada kepentingan umum, juga tidak tahu seberapa banyak yang sudah dilakukannya. Ia hanya peduli pada hasil yang diperolehnya….”

Teori Adam Smith menggambarkan, dalam pikiran kaum kapitalis yang ada hanyalah cara memperoleh laba sebesar mungkin dengan modal setipis mungkin. Dengan memperoleh bahan-bahan mentah murah dari negara jajahan ––Asia dan Afrika memang kaya bahan–– maka modal produksi dapat ditekan sesedikit mungkin. Pola demikian juga berimbas bagi buruh, Renner mengatakan buruh sama dengan alat. Maka ia dipekerjakan sewenang-wenang tanpa upah layak. Lagi-lagi motivasinya untuk menekan biaya produksi supaya tidak mahal. Ciri sistem kapitalistik ialah menghimpun kekayaan pribadi, mencari untung dan sistem upah untuk membayar pekerja. Tiga hal tersebut menjadi motivasi yang terakumulasi yang berdampak pada terintimidasinya buruh dalam sistem produksi barang atau jasa.

Buruh, di mana pun ia bekerja akan selalu menjadi korban selama kebijakan negara yang kapitalis tidak segera disegregasi. Sejarah sudah mendokumentasikan, dan seharusnya dapat jadi pelajaran berharga bagi penguasa negara manapun, termasuk Indonesia bahwa tidak semua yang lahir dari Eropa adalah baik. Sistem ekonomi kapitalis yang dinamis, ekspansif dan eksplotatif, ditambah bukti sejarah Eropa sendiri, tempat ideologi itu lahir, terbukti tak menyelesaikan permasalahan maka seyogyanya ia tidak perlu diterapkan di Indonesia. Kapitalisme justru akan menciptakan persaingan tidak sehat. Akumulasi kapital cuma akan menelurkan pemenang dan pecundang yang berdampak pada ketimpangan pendapatan dan kekayaan. Walhasil munculah ketegangan sosial. Penerapan ekonomi kapital sangat riskan diberlakukan di Indonesia karena secara umum akan memecah belah persatuan dan kesatuan, dan kian menjerumuskan buruh ke dalam stratifikasi sosial yang paling rendah. Pemerintah tak bisa sembrono, main comot sistem yang bukan menjadi jiwa bangsa Indonesia, yang bertentangan dengan nilai masyarakat Indonesia yang sosialis dan komunal. Indonesia punya nilai berbeda dengan yang ada di Eropa sana.

Oleh sebab itu harus ada keberanian dari negara untuk mengubah haluan kebijakan supaya keadilan sosial bagi buruh dapat terpenuhi. Peran negara yang pada masa kini telah banyak diambil alih oleh swasta perlu dikembalikan. Kesejahteraan bagi buruh adalah tanggungjawab negara dan tidak semata-mata tanggungjawab pengusaha.

Momentum hari buruh bulan ini, semestinya menjadi kontemplasi bagi negara untuk membuat policy yang melindungi kepentingan buruh. Negara harus membuktikan bahwa ucapan Marx, hukum mencerminkan ideologi kaum borjuis bukan hal yang benar. Semoga peringatan May Day tahun ini bisa jadi titik tolak perubahan nasib buruh.

Scroll to top