Warga PPLP Tolak Sosialisasi

Sumber : Radar Jogja Tuesday, 29 March 2011 11:12

KULONPROGO – Sejumlah warga Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) tolak kegiatan sosialisasi PT Asana WS sebagai salah satu kontraktor nasional yang bertugas dalam menyusun analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) yang akan digunakan untuk PT Jogja Magasa Iron (JMI). Kegiatan sosialisasi tersebut dilakukan di Balai Desa Pleret kecamatan Panjatan, Kulonprogo. Senin (28/03) kemarin.

Ketua Tim Amdal, Bambang Agus Suripto mengungkapkan, sosialisasi tersebut merupakan kegiatan untuk meneruskan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA AMDAL) yang sebelumnya sudah disetujui berupa pengambilan data dan survei untuk memperoleh nama-nama responden dari segi aspek geofisik, kimia, sosial, ekonomi, budaya, transportasi dan biologi yang mau diwawancarai.

“Kami ingin kulonuwun, karena sebelumnya kami belum pernah datang melakukan penelitian. Untuk saat ini, kita akan lakukan survei dengan membagikan quesioner pada pemerintah desa dan Badan Perwakilan Desa (BPD),” ungkapnya.

Bambang mengungkapkan, dalam sosialisasi tersebut responden yang diambil berjumlah 59 orang yang berasal dari warga padukuhan I-IV yang terdiri dari aparat pemerintahan Desa Pleret Panjatan dan aparat pemerintahan Desa Karangwuni Kecamatan Wates. Dirinya menambahkan, responden yang diambil setiap desa jumlahnya proporsional atau sekitar 5 persen dari jumlah aparat pemerintah dan warga penduduk.
”Pengambilan sampel responden ini merupakan salah satu kegiatan yang wajib dalam penyusunan Amdal guna menyusun rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL) aspek sosial ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Dirinya mengungkapkan, seluruh nama-nama responden yang diambil merupakan warga Pleret dengan responden yang sudah sesuai proporsi jumlah penduduk. Sedangkan, penilaian responden yang sudah diwawancarai oleh tim penyusun menggunakan pengundian akan dilakukan melalui Forum Group Discussion (FGD).

Hal ini dilakukan untuk menjaga obyektifitas dalam pengambilan sampel responden. Anggota survei nanti juga akan mendatangi nama-nama yang ada di daftar responden tersebut untuk melakukan wawancara langsung.
“Kami berharap dapat selesai pada bulan April. Kami sekarang hanya menerapkan masalah teknis yang harus diselesaikan,” ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut tampak sejumlah anggota Polsek Wates dan Polres Kulonprogo berjaga-jaga untuk mengamankan jalannya kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh PT Asana WS.

Wakil Ketua BPD Desa Pleret, Suyanto yang juga Koordinator Lapangan PPLP Pleret mengungkapkan, kegiatan sosialisasi dan pengisian quesioner yang dilakukan PT Asana WS tersebut merupakan kebohongan. Dirinya menilai penambangan pasir besi yang akan dilaksanakan merusak lingkungan hidup wilayah pesisir.

“Dalam quesioner tersebut tidak terdapat pertanyaan yang menyatakan warga mendukung atau menolak adanya tambang pasir besi tersebut. Padahal jelas, sejak lima tahun lalu warga menolak penambangan tersebut,” ungkapnya.

Menurut Sumanto, Koordinator PPLP menilai para aparat desa telah melakukan kesalahan besar dengan mengisi quesioner tersebut karena mereka seharusnya berperan sebagai pamong rakyat dalam menanggapi kasus penambangan tersebut.

“Quesioner yang diberikan oleh PT Asana WS merupakan sebuah jebakan. Saya khawatir hal ini akan mempertajam hubungan antara aparat dengan rakyat.” (c4)

Scroll to top