PPLP Permasalahkan Pengukuran Lahan

Radar Jogja, Thursday, 24 February 2011 09:58

PPLP Permasalahkan Pengukuran Lahan
Datangi Balai Desa Minta Difasilitasi Pertemuan

KULONPROGO – Sikap sebagian warga yang mendukung adanya rencana megaproyek penambangan pasir besi di Pantai Selatan Kulonprogo, membuat gerah warga Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP). Mereka memaksa melakukan audensi dengan aparat Desa Karangwuni, untuk mencari penjelasan terkait pengukuran lahan oleh para pendukung PT JMI, Selasa (22/2).

Salah satu pimpinan warga PPLP Suparno mengungkapkan, kedatangan dirinya beserta puluhan warga yang menolak pelaksanaan tambang pasir besi adalah untuk menayakan maksud dan tujuan dari pengukuran yang telah dilakukan di sejumlah areal lahan pertanian warga Karangwuni.

“Ada warga yang belum deal tapi sudah dilakukan pengukuran, sehingga memunculkan pro dan kontra. Kami minta data-data yang jelas. Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kami tidak tanggung jawab,” ungkapnya.

Dalam audiensi tersebut, warga juga menilai bahwa sikap Kepala Desa Karangwuni hanya sepihak, karena sebelumnya tidak memberitahukan kepada warga lain bila ada pengukuran sejumlah lahan oleh warga yang mendukung pembangunan pasir besi tersebut.
Salah seorang anggota PPLP Suyadi mengharapkan agar pelaksanaan pengukuran serta penambangan segera dibatalkan, karena sebagian warga menolak proyek tersebut. Dirinya mengatakan, apabila tidak segera dihentikan, maka rentan terjadi bentrokan.

“Warga PPLP memperingatkan kegiatan pengukuran segera dibatalkan, kami tidak mencari musuh, tetapi kalau ada (kami) siap hadapi bersama. Warga ingin ada pertemuan antara warga yang pro dengan yang kontra di Balai Desa Karangwuni,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Kepala Desa Karangwuni Sutarman menjelaskan bahwa tujuan pengukuran lahan yang dilakukan oleh beberapa warga tersebut adalah sebagai bentuk dukungan terhadap JMI.

“Saya punya tanggung jawab dengan warga Karangwuni. Karena ada sebagian warga yang menerima, dan ada sebagian lagi warga yang menolak, maka saya harus adil pada dua warga yang memiliki pemikiran berbeda itu,” paparnya.
Dalam pertemuan tersebut, Sutarman didampingi Kapolsek Wates Kompol Guntur dan Dankoramil Wates Kapten Nar Sutrisno. Dalam kesempatan itu, Sutarman juga siap memfasilitasi sejumlah warga yang belum mau berdialog untuk merelakan lahan yang dimiliki sebagai areal penambangan.

Terkait pengukuran tersebut, Sutarman mengakui bahwa sebelumnya ia sudah mengirimkan surat kepada Polres, Polda, Kapolri dan Presidan RI. “Kami melayangkan surat kepada pihak kepolisian karena tidak ingin terjadi kontraproduktif. Surat tersebut demi keamanan warga Karangwuni seluruhnya,” ujar Sutarman.

Disinggung tenang permintaan difasilitasi adanya pertemuan antara warga yang pro dengan yang kontra, Sutarman menyatakan siap. “Saya siap memfasilitasi. Sebelumnya akan saya panggil perwakilan dari pihak yang pro maupun kontra dulu,” katanya.
Di bagian lain, ratusan warga PPLP yang terdapat di Dusun Garongan 2, 3, 4 dan sejumlah warga dari Dusun Pleret, Wates, Kulonprogo berjaga-jaga lengkap bersenjatakan parang dan golok di sepanjang jalan antara Garongan –Pantai Bugel.

Aksi tersebut dilakukan setelah membaca statement Sri Sultan Hamengkubuwono X pada sebuah surat kabar yang menyatakan dukungannya pada pembangunan pasir besi oleh PT JMI. Dalam surat kabar tersebut, Sultan juga akan menurunkan sejumlah preman untuk mengamankan penolakan yang dilakukan warga PPLP. (c4)

Scroll to top