Negara dan Masyarakat: “Pluralisme Agama vs Kesatuan Indonesia”

photo-1453412324657-958beaf0ef12

Oleh : Ikram Ladjima

Tidak ada satu agama yang menjadi agama resmi negara, serta tidak hanya satu agama yang menjadi sumber hukum dan sumber moral suatu negara.”

Indonesia adalah Negara pluralistik dengan beraneka ragam agama, budaya, adat, etnis, suku, bahasa dan banyak lainnya. Pluralisme tersebut terbingkai dalam bentuk negara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan nilai-nilai falsafah pancasila yang tertuang dalam Pembukaan UUD NRI 1945 Alinea IV. Sebagai Ideologi Negara Indonesia, Pancasila menjadi pedoman dasar negara Indonesia dalam mengatur tatanan kehidupan masyarakatnya. Secara filosofis, Pancasila dengan semboyan ”Bhineka Tunggal Ika” menjadi kekuatan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai jati diri yang asli dan yang lahir dari pemikiran-pemikiran masyarakat Indonesia. Secara yuridis, pancasila sebagai norma dasar “staat fundamental norms” atau norma dasar negara dalam menciptakan norma-norma atau aturan baru untuk mengatur dan mengayomi kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara sosiologis, dengan melihat sosio-politik bangsa Indonesia yang sejatinya beragam tetapi tetap pada sifat yang toleran, gotong royong, santun dan musyawarah mufakat. Continue reading Negara dan Masyarakat: “Pluralisme Agama vs Kesatuan Indonesia”

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Google+

Bangkitnya Rezim Otoriter Orde Baru

Sebuah poster ANTI-TANK Project di suatu sudut Yogyakarta.
Sebuah poster ANTI-TANK Project di suatu sudut Yogyakarta.

Oleh : Adhelano Tuakia

“… Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!”

(Wiji Thukul : Peringatan, 1986)

Begitulah penggalan puisi yang pernah diciptakan oleh seorang Wiji Thukul di rezim yang begitu represif dan otoriter. Ya, pada saat rezim Soeharto berkuasa 32 tahun lamanya. Masih sangat kental dipikiran bagaimana rezim ini membabi buta menghabisi setiap rakyat di negeri ini yang dipandang akan mengganggu kelangsungan kekuasaannya. Semua elemen rakyat yang mencoba mengkritik dituduhnya subversif. Diculik, dipukul, ditahan tanpa proses peradilan yang fair, hingga penghilangan nyawa seseorang. Banyak peristiwa-peristiwa pelanggaran hak azasi manusia dilakukan oleh negara kala itu. Mulai dari aksi yang diinisiatori oleh mahasiswa, aksi buruh hingga perampasan lahan yang menghilangkan banyak nyawa kaum petani menjadi catatan berharga sepanjang pemerintahan Rezim Soeharto berkuasa. Continue reading Bangkitnya Rezim Otoriter Orde Baru

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Google+

Bangkit dan Bersatulah!

One Billion Rising, salah satu aksi yang berkampanye tentang hak-hak perempuan, terutama melawan kekerasan seksual.

Oleh: Dwi Prasetyo Pujo Wibowo

Perempuan dalam konstruksi sosial, memang sudah mengalami banyak perubahan. Setiap kehidupan bermasyarakat dapat kita ketemukan betapa hebatnya peranan seorang perempuan. Bahkan di era yang serba modern seperti saat ini, keterlibatan seorang perempuan juga merupakan suatu faktor penentu dari sebuah keberhasilan dalam suatu tujuan. Akan tetapi semua fakta tersebut hanyalah tahapan awal perjuangan terhadap keberadaan dan pengakuan terhadap dirinya, bahwa mereka juga memiliki peran yang sama dalam setiap konstruksi sosial yang terbangun di dalam masyarakat.  Continue reading Bangkit dan Bersatulah!

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on Google+

Bantuan Hukum Untuk Miskin dan Tertindas